Konsep belajar dan faktor yg melingkupi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Panca indera yang merupakan sebagai bagian dari instrumental dalam proses belajar tidaklah dapat dijadikan sebagai patokan pengukuran yang pasti dan akurat karena hal ini disebabkan adanya perbedaan muatan kejelian dari setiap individu yang dibawa sejak lahir atau sering disebut sebagai hereditas individual serta lingkungan yang membentuk kejelian tersebut.
Hal ini sangat disadari oleh para ahli, namun hal semacam ini bukan merupakan suatu penghalang yang perlu dikhawatir secara intensif karena para ahli sendiri telah membuat suatu definitif yang beragam tergantung dari aspek apa, peninjauan batas ruang lingkup belajar serta apa saja yang menyangkut atau melingkupi proses belajar, yang diobservasi.
Dapat dicontohkan melalui penetapan syilabi yang kami spesifikkan dalam pembahasan proses belajar dan faktor-faktor yang berpengaruh, dimulai dari definisi belajar itu sendiri serta disusul dengan unsur-unsur belajar, perbuatan yang dapat disebut belajar, karakteristik, manifestasi, serta ragam hasil belajar, faktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar, dan hasil eksperimen tentang proses belajar.
Dari contoh syilabi di atas, dapat dipahami secara mendasar bahwa wacana mengenai proses belajar yang walaupun berangkat dari instrumental-instrumental yang terbatas, tidak perlu dirisaukan karena batasan-batasan yang dipatokan oleh para ahli sangat proporsional dan bisa dipertanggungjawabkan dalam skala ruang lingkup wacana belajar.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana dan apa saja unsur-unsur belajar itu?
2. Seperti apa perbuatan yang dapat disebut belajar itu?
3. Bagaimana karakteristik, manifestasi, dan ragam hasil belajar itu?
4. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses dan hasil belajar?
5. Seperti apa hasil eksperimen tentang proses belajar?

BAB II
PEMBAHASAN
Konsep Belajar dan Faktor-faktor yang Berpengaruh

A. Definisi belajar dan Unsur-unsurnya.
A. Definisi Belajar
Dalam skala waktu yang tidak begitu panjang atau lama, definisi belajar beragam adanya, hal ini disebabkan karena masalah belajar memang merupakan hal yang mendasar bagi manusia. Beberapa definisi mengenai belajar akan dijelaskan disebutkan di bawah ini.
1) Menurut Cronbach, dalam bukunya Edicational Psychology, mengatakan bahwa "Learning is shown by a change in the behavior as a result of experience." Jadi menurut Cronbach, belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami. Dan dengan mengalami itu si pelajar menggunakan panca inderanya.
2) Menurut Berelsom dan Steiner, dalam bukunya human behavior, mengemukakan bahwa "Learning: Change in behavior result from previous behavior in similar situations." Jadi yang dimaksudkan di sini mengacu kepada akibat-akibat yang ditimbulkan oleh pengalaman, baik secara langsung maupun simbolik, terhadap tingkahlaku berikutnya.
3) Laurine, dalam bukunya Building the High School Curriculum, mengemukakan bahwa "Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melakui pengalaman." Menurut pengertian ini, belajar merupakan proses, kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, tetapi lebih luas dari itu dan bukan hanya penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.
4) Menurut Muhibbin syah, dalam bukunya, psikologi belajar, menyatakan bahwa "Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan."
B. Unsur-unsur Belajar
Adapun unsur-unsur belajar menurut Gagne adalah:
a. Pembelajar
Pembelajar dapat berupa peserta didik, pembelajar, warga belajar dan peserta pelatihan. Pembelajar memiliki organ pengindraan yang digunakan untuk menangkap rangasangan; otak yang digunakan untuk mentransformasikan hasil pengindraannya ke dalam memori yang kompleks; dan syaraf atau otot yang digunakan untuk menampilkan kinerja yang menunjukkan apa yang telah dipelajari.
b. Rangsangan
Peristiwa yang merangsang penginderaan pembelajar disebut situasi stimulus. Dalam kehidupan seseorang terdapat banyak stimulus yang berada di lingkungannya. Agar pembelajar mampu belajar optimal, maka ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diminati.
c. Memori
Memori pembelajar berisi pelbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktifitas belajar sebelumnya.
d. Respon
Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut dengan respon. Pembelajar yang sedang mengamati stimulus, maka memori yang ada dalam dirinya kemudian memberikan respon terhadap stimulus tersebut. Respon yang terjadi dalam pembelajaran diamati pada akhir proses belajar yang disebut perubahan perilaku atau perubahan kinerja.


B. Beberapa Perbuatan yang Dapat Dikatakan Belajar.
1) Mendengarkan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bergaul dengan orang lain. Dalam pergaulan itu terjadi komunikasi verbal berupa percakapan. Percakapan memberi situasi sendiri bagi orang-orang yang terlibat atau tidak teribat tetapi secara tidak langsung mendengar informasi. Situasi ini memberi kesempatan kepada seseorang untuk belajar. Seseorang menjadi belajar atau tidak dalam situasi ini, tergantung ada tidaknya kebutuhan, motivasi, dan set seseorang itu. Dengan adanya kondisi pribadi seperti itu, memungkinkan seseorang tidak hanya mendengar, melainkan mendengarkan secara aktif dan bertujuan.
2) Memandang
Setiap stimuli visual memberi kesempatan bagi seseorang untuk belajar. Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang dapat kita pandang, akan tetapi tidak semua pandangan atau penglihatan kita adalah belajar. Meskipun pandangan kita tertuju pada suatu objek visual, apabila dalam diri kita tidak terdapat kebutuhan, motivasi dan set tertentu untuk mencapai suatu tujuan, maka pandangan yang demikian tidak termasuk belajar. Apabila kita memandang segala set suatu dengan set tertentu untuk mencapai tujuan yang mengakibatkan perkembangan dari kita, maka dalam hal yang demikian kita sudah belajar.
3) Meraba, mencium, mencicipi atau mencecap.
Meraba, mencium, dan mencecap adalah aktivitas sensoris seperti halnya mendengarkan dan memandang. Aktivitas meraba, mencium, ataupun mencecap dapat dikatakan belajar, apabila aktivitas-aktivitas itu didorong oleh kebutuhan, motivasi untuk mencapai tujuan dengan menggunakan set tertentu untuk memperoleh perubahan tingkah laku.
4) Menulis atau Mencatat
Tidak setiap aktivitas mencatat adalah belajar. Aktivitas mencatat yang bersifat menurun, menjiplak atau mengkopi adalah tidak dapat dikatakan sebagai aktivitas belajar. Mencatat yang termasuk belajar yaitu apabila dalam mencatat itu orang menyadari kebutuhan serta tujuannya, serta menggunakan set tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar. Mencatat yang menggunakan set tertentu akan dapat dipergunakan sewaktu-waktu tanpa adanya kesulitan.
5) Membaca
Orang yang membaca buku pelajaran sambil berbaring santai di tempat tidurnya hanya dengan maksud agar dia bisa tertidur, bukan termasuk aktivitas belajar. menurut ilmu jiwa, orang yang membaca sambil berbaring dengan tujuan belajarpun masih belum disebut sebagai aktivitas belajar. Bela jar adalah aktif, dan membaca untuk keperluan belajar hendaknya dilakukan di meja belajar daripada di tempat tidur, karena dengan sambil tiduran itu perhatian dapat terbagi. Dengan demikian, belajar dapat menggagu set belajar.
6) Membuat Ikhtisar, dan Menggarisbawahi
Banyak orang yang merasa terbantu dalam belajarnya karena menggunakan ikhtisar-ikhtissar materi yang dibuatnya. Ikhtisar atau ringkasan ini memang dapat membantu kita dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku untuk masa-masa yang akan datang. Untuk keperluan belajar yang itensif, bagaimanapun juga hanya membuat ikhtisar adalah belum cukup. Sementara membaca, pada hal-hal yang penting kita beri garis bawah. Hal ini sangat membantu kita dalam usaha menemukan kembali materi itu dikemudian hari.
7) Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan.
Dalam buku ataupun di lingkungan lain sering kita jumpai tabel-tabel, diagram-diagram ataupun bagan-bagan. Materi non-verbal semacam ini sangat berguna bagi kita dalam mempelajari materi yang relevan itu. Demikian pula gambar-gambar, peta-peta dan lain-lain dapat menjadi bahan ilustratif yang membantu pemahaman kita tentang suatu hal.
8) Menyusun paper atau kertas kerja
Tidak semua aktivitas penyusunan paper merupakan aktivitas belajar. Banyak pelajar atau mahasiswa yang menyusun paper dengan jalan mengkopi atau menjiplak. Memang cara yang demikian sering menguntungkan mereka karena denngan mengambil materi sana-sini, diatur hubungannya sehingga membentuk sajian yang sistematis dan lengkap, dengan bahasa yang bagus karena dibuat oleh para ahli. Maka mereka memperoleh angka lulus.
9) Mengingat
Mengingat dengan maksud agar ingat tentang sesuatu, belum termasuk dalam aktivitas belajar. Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut adalah termasuk aktivitas belajar, apalagi jika mengingat itu berhubungan dengan aktivitas-aktivitas belajar lainnya.
10) Berfikir
Adapun yang menjadi objek serta tujuan berfikir adalah termasuk aktivitas belajar. Dengan berfikir, orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antar sesuatu.
11) Latihan atau Praktik.
Latihan atau praktik adalah termasuk aktivitas belajar. Orang yang melaksanakan kegiatan berlatih tentunya sudah mempunyai dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat mengembangkan sesuatu aspek pada dirinya. Orang yang berlatih atau berpraktik sesuatu tentunya menggunakan set tertentu sehingga setiap gerakan atau tindakannya terarah kepada suatu tujuan. Dalam berlatih atau berpraktik terjadi interaksi yang interaktif dan terarah ke suatu tujuan. Hasil dari latihan atau praktik itu sendiri akan berupa pengalaman yang dapat mengubah diri subjek serta mengubah lingkungannya.
C. Karakteristik, Manifestasi dan Ragam Hasil Belajar.
setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik.
A. Karakteristik
Karakteristik perilaku belajar dalam beberapa pustaka rujukan, antara lain psikologi pendidikan oleh surya, disebut juga prinsip-prinsip belajar. Di antara ciri khas perubahan yang menjadi karakteristik prilaku belajar meliputi perubahan–perubahan yang bersifat: 1) intensional (disengaja); 2) positif dan aktif (bermanfaat dan atas hasil usaha sendiri); 3) efektif dan fungsional (berpengaruh dan mendorong timbulnya perubahan baru).
B. Manifestasi
Manifestasi perilaku belajar tampak dalam: 1) kebiasaan seperti siswa belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar; 2) keterampilan seperti menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi; 3) pengamatan yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga siswa mampu mencapai pengertian yang benar; 4) berfikir asosiatif yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat; 5) berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti "bagaimana (how)" dan "mengapa (why)"; 6) sikap yakni kecenderungan yang relative menetap untuk bereaksi dengan cara baik dan buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan; 7) inhibisi (menghindari hal yang mubazir); 8) apresiasi (menghargai karya-karya bermutu); 9) tingkah laku afektif yakni tingkah laku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was, dan sebagainya sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.


C. Ragam Belajar
Ragam belajar dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Ragam belajar meliputi: 1) Belajar abstak yaitu belajar yang menggunakan cara-cara berfikir abstrak yang dalam mempelajarinya diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid. 2) Belajar keterampilan yaitu belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot(neuromuscular). Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Misalnya belajar olah raga, menari, musik, melukis, dan juga sebagian materi pelajaran agama, seperti ibadah salat dan haji. 3) Belajar sosial yaitu belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, masalah persahabatan, masalah kelompok, dan masalah-masalah lain yang bersifat kemasyarakatan. 4) Belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berfikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti yang dalam mempelajarinya, kemampuan dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. 5) Belajar rasional yaitu belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional (sesuai dengan akal sehat) yang disebut juga rational problem solving yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis. Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. 6) Belajar kebiasaan yaitu proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras degan kebutuan ruang dan waktu (konstekstual). 7) Belajar Apresiasi yaitu belajar mempertimbangkan (judgment) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skills) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan sebagainya. 8) Belajar pengetahuan (studi) yaitu belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Tujuannya agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan.

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar.
A. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar indivivdu dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu faktor endogen atau yang disebut juga faktor internal dan eksogen atau yang disebut juga faktor eksternal, yang akan dijelaskan sebagai di bawah ini.
a. Faktor Endogen
Faktor endogen atau faktor yang berada di dalam diri individu meliputi faktor, yakni faktor fisik dan faktor psikis.

i. Faktor Fisik
Faktor fisik ini bisa kita kelompokkan lagi menjadi beberapa kelompok, antara lain adalah faktor kesehatan. Bilamana anak yang kurang sehat atau kurang gizi, daya tangkap dan kemampuan belajarnya akan kurang dibandigkan dengan anak yang sehat.
Selain faktor kesehatan, ada faktor lain yang penting, yaitu cacat-cacat yang dibawa anak sejak berada di dalam kandungan. Keadaan cacat ini juga bisa menghambat keberhasilan seseorang dan menjadi penghambat dalam perkembangan anak, sehingga anak menghadapi kesulitan berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungannya.
ii. Faktor Psikis
Banyak faktor yang termasuk dalam aspek psikis yang bisa mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran. Di antara begitu banyak faktor psikis, yang paling banyak atau sering disoroti pada saat ini adalah faktor-faktor sebagai berikut:
1) Faktor Intelegensi dan Kemampuan
Pada dasarnya, manusia berbeda satu sama lainnya. Salah satu perbedaan itu adalah dalam hal kemampuan atau intelegensi. Kenyataan menunjukkan, ada orang yang dikaruniai kemampuan tinggi, sehingga mudah dalam mempelari sesuatu. Dan, sebaliknya, ada orang yang kemampuannya kurang sehingga megalami kesulitan untuk mempelajari sesuatu. Dengan demikian, perbedaan dalam mempelajari sesuatu disebabkan, antara lain, oleh perbedaan taraf kemampuannya dalam mempelajari sesuatu.
2) Faktor Perhatian dan Minat.
Bagi seseorang, mempelajari sesuatu hal yang menarik perhatian akan lebih mudah diterima daripada mempelajari hal yang tidak menarik perhatian..
Dalam hal minat, tentu saja seseorang yang menaruh minat pada seatu bidang akan lebih mudah mempelajari bidang tersebut. Secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan gairah yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
Keinginan atau minat dan kemauan atau kehendak sangat memengaruhi corak perbuatan yang akan diperlihatkan seseorang. Sekalipun seseorang itu mampi\u mempelajari sesuatu, tetapi bila tidak mempunyai minat, tidak mau, atau tidak ada kehendak untuk mempelajari, ia tidak akan bisa mengikuti proses belajar. Minat atau keinginan ini erat pula hubungannya dengan perhatian yang dimiliki, karena perhatian mengarahkan timbulnya kehendak pada seseorang. Kehendak atau keinginan ini juga erat kaitannya dengan kondisi fisik seseorang, misalnnya dalam keadaan sakit, capek, atau juga sebaliknya. Hal ini juga erat kaitannya dengan kondisi psikis, seperti senang, tidak senang, bergairah, dan seterusnya.
3) Faktor Bakat.
Pada dasarnya bakat itu mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seseorang yang memiliki inteligensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) yang disebut juga sebagai talented human.
4) Faktor Motivasi.
Motivasi adalah keadaan internal organisme yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Karena belajar merupakan suatu proses yang timbbul dari dalam, faktor motivasi memegang peranan pula. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal ataupun yang bersifat eksternal akan menyebabkan kurang kebersemangatnya dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi, baik di sekolah maupun di rumah.
5) Faktor Kematangan.
Kematangan adalah tingkat perkembangan pada individu atau organ-organna sehingga sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam proses belajar, kematangan atau kesiapan ini sangat menentukan. Oleh karena itu, setiap usaha belajar akan lebih berhasil bila dilakukan bersamaan dengan tingkat kematangan individu.
6) Faktor Kepribadian.
Faktor kepribadian seseorang turut memegang peranan dalam belajar. Orang tua atau masyarakat umum terkadang melupakan faktor ini, yaitu bahwa anak adalah makhluk kecil yang memiliki kepribadian sendiri. Jadi, faktor kepribadian seseoarang mempengaruhi keadaan seseorang.
b. Faktor Eksogen
Seperti sudah dijelaskan, faktor eksogen berasal dari luar diri seseorang. Fffaktor eksogen sebetulnya meliputi banyak hal, namun secara garis besar kita bisa membaginya dalam tiga faktor, yakni (a) faktor keluarga, (b) faktor sekolah, dan (c) faktor lingkungan lain, di luar keluarga dan sekolah.
i. Faktor Keluarga
Menurut pandangan sosiologis, keluarga adalah lembaga sosial terkecil dari masyarakat. Pengertian keluarga ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan bagian dari masyarakat; bagian ini menenrukan keseluruhan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh kesejahteraan keluarga.
Individu-individu yang yang baru berkembang, yang dilahirkan dalam suatu keluarga, harus mengalami proses belajar sehingga akan mengambil alih nilai-nilai yang umum berlaku dalam kelompoknya.
Dalam hubungan dengan belajar, faktor keluarga tentu saja mempunyai peranan penting. Keadaan keluarga akan sangat menetukan berhasil-tidaknya anak dalam menjalin proses belajarnya.
Faktor keluarga sebagai salah satu penentu yang berpengaruh dalam belajar, dapat dibagi lagi menjadi tiga aspek, yakni: (1) kondisi ekonomi keluarga, (2) hubungan emosional orang tua dan anak, serta (3) cara-cara orang tua mendidik anak.
1) Kondisi Ekonomi Keluarga
Faktor ekonomi sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan kehidupan keluarga. Keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak kadang-kadang tidak terlepas dari faktor ekonomi ini. Begitu pula faktor keberhasilan seorang anak.
2) Hubungan Emosional Orang Tua dan Anak
Hubungan emosional antara orang tua dan anak juga berpengaruh dalam keberhasilan anak. Dalam suasana rumah yang selalu rebut dengan pertengkaran akan mengakibatkan terganggunya ketenangan dan konsentrasi anak, sehingga anak tidak bisa belajar dengan baik. Hubungan orang tua dan anak yang ditandai sikap acuh tak acuh dapat pula menimbulkan reaksi frustasi pada anak. Orang tua yang terlalu keras pada anak dapat menyebabkan "jauh"-nya hubungan mereka yang pada gilirannya menghambat proses belajar. Sebaliknya, hubungan anak dan orang tua yang terlalu dekat.
3) Cara Mendidik Anak
Biasanya, setiap keluarga mempunyai spesifikasi dalam mendidik. Ada keluarga yang menjalankan cara-cara mendidik anaknya secara dictator militer, ada yang demokratis, pendapat anak diterima oleh orang tua, tetapi ada juga orang tua yang acuh tak acuh dengan setiap pendapat anggota keluarga. Ketiga cara mendidik ini, langsung atau tidak langsung, dapat berpengaruh pada proses belajar anak.
ii. Faktor Sekolah
keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar. Kualitas guru, metode mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas/perlengkapan disekolah, keadaan ruangan, jumlah murid per kelas, pelaksanaan tata tertib sekolah, dan sebagainya, semua itu turut mempengaruhi keberhasilan belajar anak. Bila suatu sekolah kurang memperhatikan tata tertib (disiplin), maka murid-muridnya kurang mematuhi perintah para guru dan akibatnya mereka tidak mau belajar sungguh-sungguh di sekolah atau di rumah. Hal ini mengakibatkan prestasi belajar anak menjadi rendah. Demikian pula jika jumlah murid per kelas terlalu banyak (50-60 orang), dapat mengakibatkan kelas kurang tenang, hubungan guru dengan murid kurang akrab, kontrol guru menjadi lemah, murid menjadi kurang perhatian terhadap gurunya, sehingga motivasi belajar menjadi lemah.
iii. Faktor Lingkungan sekitar.
Keadaan lingkungan tempat tingal, juga sangat penting dalam mempengaruhi prestasi belajar. Keadaan lingkungan, suasana sekitar, suara hiruk-pikuk orang disekitar, polusi udara, iklim yang terlalu panas, semuanya itu akan mempengaruhi kegairahan belajar dan begitu pula sebaliknya. Demikian juga keadaan masyarakat yang menentukan prestasi belajar. Bila disekitar tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar dan fakta yang terjadi akan sebaliknya bila lingkungannya tidak seperti di atas.
B. Hasil Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar.
Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:
1. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
2. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
3. Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati).
Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.

E. Beberapa Hasil Eksperimen Tentang Proses Belajar.
Hasil belajar bisa dinilai dari hasil eksperimen seperti contoh :
a) seorang siswa misalnya, dapat dianggap sukses secara afektif dalam belajar agama apabila ia telah menyenangi dan menyadari dengan ikhlas kebenaran ajaran agama yang ia pelajari, lalu menjadikannya sebagai ”sistem nilai diri”. Kemudian, pada giliranya ia menjadikan sistem nilai ini sebagai penuntun hidup, baik dikala suka maupun duka ( Darajat, 1985 ).
b) kegiatan siswa dalam bidang studi fisika mengenai "gerak" menurut hukum Newton. Dalam hal ini siswa melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa setiap benda tetap diam atau bergerak secara beraturan, kecuali kalau ada gaya luar yang mempengaruhinya.
c) kegiatan siswa dalam bidang studi biologi mengenai protoplasma, yakni zat hidup yang ada pada tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dalam hal ini siswa melakukan investigasi terhadap senyawa organik yang terdapat dalam protoplasma yang meliputi: karbohidrat, lemak, protein, dan asam nukleat.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami atau dengan panca indera. Ada juga yang mengatakan bahwa belajar itu mengacu kepada akibat-akibat yang ditimbulkan oleh pengalaman, baik secara langsung meupun simbolik, terhadap tingkahlaku berikutnya dan lebih luas lagi ada yang mengatakan bahwa belajar merupakan proses, kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, tetapi lebih luas dari itu dan bukan hanya penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. Sedangakan unsur-unsur belajar diantaranya ialah: 1) Pembelajar, 2) Rangsangan, 3) Memori, 4) Respon.
Beberapa perbuatan yang dapat dikatakan belajar diantaranya yaitu: 1) Mendengarkan, 2) Memandang, 3) Meraba, mencium, mencicipi atau mencecap, 4) Menulis atau Mencatat, 5) Membaca, 6) Membuat Ikhtisar, dan Menggarisbawahi, 7) Mengamati table-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan, 8) Menyusun paper atau kertas kerja, 9) Mengingat, 10) Berfikir, 11) Latihan atau Praktik.
Di antara ciri khas perubahan yang menjadi karakteristik prilaku belajar meliputi perubahan–perubahan yang bersifat: 1) intensional; 2) positif dan aktif; 3) efektif dan fungsional. Sedangkan Manifestasi perilaku belajar tampak dalam: 1) kebiasaan; 2) keterampilan; 3) pengamatan; 4) berfikir asosiatif; 5) berfikir rasional dan kritis; 6) sikap; 7) inhibisi; 9) tingkah laku afektif. Adapun Ragam Ragam belajar meliputi: 1) Belajar abstak; 2) Belajar keterampilan; 3) Belajar sosial; 4) Belajar pemecahan masalah; 5) Belajar rasional; 6) Belajar kebiasaan; 7) Belajar apresiasi; 8) Belajar pengetahuan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar hanya dua yaitu faktor Indogen dan Eksogen. Sedangkan hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor.
DAFTAR PUSTAKA

Abror, Abd. Rohman, 1993. Psikologi Pendidikan, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Sobur, Alex, 2003. Psikologi Umum, Pustaka Setia, Bandung.
Syah, Muhibbin, 2001. Psikologi Belajar, PT Logos Wacana Ilmu, Ciputat.
Dalyono, 1997. Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono, 1999. Belajar Dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta
Hamalik, Oemar, 2006. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara, Bandung.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar