GENERALISASI

BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

Generalisasi memegang peranan penting dalam cara berpikir, sebab hal semacam ini membuat kita tidak tergesa-gesa untuk menghakimi atau menganggap sesuatu dengan tidak melihat perbandingan di sisi lain. Karena banyak sekali fenomena yang mana secara tergesa-gesa dianggap salah tanpa dilakukan pembuktian secara holistik

Kita mungkin pernah mendengar seseorang berkata pada peristiwa yang belum mencapai fenomena yang sering terjadi, namun kita dengan tergesa-gesa mengatakan bahkan hal ini seperti ini tanpa melihat fenomena-fenomena yang lain sebagai pembanding.

B. Rumusan Masalah

Dalam pembahasan ini yang menjadi rumusan masalah adalah:


1. Apa Pengertian Generalisasi ?

2. Berapa Macam-macam Generalisasi?

3. Bagaimana Pengujian Generalisasi?

4. Seperti Apa Generalisasi Salah Itu?

5. Seperti apa Generalisasi Empirik dan Generalisasi dengan Penjelas?

6. Berapa Syarat-Syarat Generalisasi?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah:

1. Untuk mengatahui maksud dan cara kerja dari generalisasi.

2. Untuk memahami fenomena yang mengandung generalisasi.

3. Dapat menkonstruk segala fenomena dengan kesatuan analisis generalisasi.

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan dari makalah ini adalah:

1. Agar kita dapat berfikir dan bernalar secara benar dan tepat.

2. Agar kita dapat menganalisa dalam setiap fenomena.


BAB II

LANDASAN TEORI

Landasan Teori

Dalam pembahasan Generalisasi ini dapat kita titik beratkan berdasarkan landasan teori:

1. Generalisasi Sempurna

a. Generalisasi Empirik dengan Penjelas.

b. Generalisasi Ilmiah.

2. Generalisasi Tidak Sempurna atau Sebagian

a. Generalisasi Empirik.





















BAB III

PEMBAHASAN

PENGERTIAN GENERALISASI 

Generalisasi dalam ilmu mantiq disebut istiqro' atau istinbat). Generalisasi adalah istidlal yang di dasarkan atas memepelajari terhadap sesuatu yang kecil dengan sunggug-sungguh darinya aqal bisa mengambil kesimpulan umum.[1] Atau yang lebih umum mengenai generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki.[2] Dengan begitu, hukum yang disimpulkan dari fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki, oleh karena itu, hukum yang dihasilkan oleh penalaran generalisasi tidak pernah sampai kepada kebenaran pasti tetapi hanya sampai kepada kebenaran kemungkinan besar. 

Contoh: ada beberapa fenomena, yaitu[3]: 

o Hamid adalah mahasiswa tarbiyah….jujur

o Munir adalah mahasiswa tarbiyah….jujur

o Nurul adalah mahasiswa tarbiyah….jujur

o Faizin adalah mahasiswa tarbiyah….jujur

Jika disimpulkan bahwa semua mahasiswa tarbiyah itu jujur maka kebenaran kesimpulan ini hanya mempunyai kebenaran kemungkinan besar (probabilitas).

Atau dapat dicontohkan dengan fenomena lain, seperti besi, melalui percobaan-percobaan pemanasan (memanaskan), ternyata besi itu memuai. Percobaan dilakukan berulang-ulang diberbagai tempat dan waktu, hasilnya terbukti sama yaitu menuai. Kesimpulan umum lantas ditarik bahwa besi jika dipanaskan menuai.[4]

MACAM-MACAM GENERALISASI

Mengacu kepada kuantitas fenomena yang menjadi dasar penyimpulan, generalisasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Generalisasi Sempurna dan Generalisasi Sebagian.

1. Generalisasi Sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki semua, contoh. Semua bulan masehi mempunyai hari tidak lebih dari 31 hari. Dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena, yaitu jumlah hari pada setiap bulan dalam satu tahun diselidiki tanpa ada yang ditinggalkan. Generalisasi semacam ini, memberikan kesimpulan yang sangat kuat dan tidak dapat dipatahkan tetapi prosesnya tidak praktis dan tidak ekonomis.

2. Generalisasi Sebagian, yaitu generalisasi dimana kesimpulannya diambil berdasarkan sebagian fenomena yang kesimpulanya berlaku juga bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki, misalnya. Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia adalah menusia yang suka bergotong-royong kemudian diambil kesimpulan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong, maka penyimpulan ini adalah generalisasi sebagian (probabilitas).

Meskipun macam generalisasi ini tidak menghasilkan kesimpulan sampai ketingkat pasti tetapi proses generalisasi ini jauh lebih praktis dan ekonomis, seperti halnya ilmu. Ilmu yang disusun berdasar fakta observasi tidak untuk menyajikan kebenaran mutlak melainkan kebenaran probabilitas sehingga sangat keliru jika diantara kita berkeyakinan bahwa ilmu menyajikan hukum dan kesimpulan yang kebenarannya mutlak.

Jika kita berbicara mengenai generalisasi, maka generalisasi yang dimaksud adalah generalisasi tidak sempurna. Menurut para ahli, generalisasi ini disebut sebagai induksi tidak sempurna dan teknik inilah yang paling banyak digunakan dalam menyusun ilmu pengetahuan. Dalam ilmu biologi misalnya, Darwin menyatakan bahwa ‘Semua kucing putih yang bermata biru adalah tuli.’ Kesimpulan ini didasarkan atas generalisasi tidak sempurna, demikian pula pernyataan Cuvier bahwa “Tidak ada hewan yang bertanduk dan berkuku telapak adalah pemakan daging”. Isaac Newton juga mendasarkan kesimpulannya pada generalisasi tidak sempurna atas teorinya yang mashur tentang hukum gravitasi. Ilmu-ilmu kealaman semua disusun berdasarkan generalisasi tidak sempurna, demikian pula ilmu-ilmu sosial. 

PENGUJIAN ATAS GENERALISASI

Untuk menguji apakah generalisasi yang dihasilkan cukup kuat untuk dipercaya dapat kita pergunakan evaluasi berikut:[5]

1. Apakah sampel yang digunakan secara kuantitatif cukup mewakili. Semakin banyak jumlah fenomena yang digunakan semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan, meskipun kita tidak boleh menyatakan bahwa dua kali jumlah fenomena individual akan menghasilkan dua kali kadar keterpercayaan. Memang tidak ukuran yang pasti berapa jumlah fenomena individual yang diperlakukakn untuk dapat mengasilkan kesimpulan yang terpercaya. Contoh. Untuk menentukan jenis darah seseorang cukup dengan satu titik darinya.

2. Apakah sampel yang digunakan cukup bervariasi. Untuk mementukan kadar minat dan kesadaran berkoperasi sebagai sistem ekonomi yang diharapkan bagi bangsa Indonesia, harus diteliti dari berbagai suku bangsa, berbagai lapisan penghidupan, berbagai pendidikan. Semakin banyak variasi sampel, semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan. 

3. Apakah dalam generalisasi itu diperhitungkan hal-hal yang menyimpang dengan fenomena umum atau tidak. Kekecualian-kekecualian harus diperhitungkan juga, terutama jika kekecualian cukup besar jumlahnya. Dalam hal kekecualian cukup besar tidak mungkin diadakan generalisasi. Bila kekecualian sedikit jumlahnya harus dirumuskan dengan hati-hati; kata-kata seperti semua, setiap, selalu, tidak semuanya, sebagian besar, kebanyakan; harus didasarkan atas pertimbangan rasional yang cermat. Semakin cermat faktor-faktor pengecualian dipertimbangkan, semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.

4. Apakah yang dirumuskan konsisten dengan fenomena individual, tidak boleh memberikan tafsiran menyimpang dari data yang ada. Misalnya, penyelidikan tentang faktor utama penyebab rendahnya prestasi akademik mahasiswa IAIN. Apabila data setiap individu dari sampel yang diselidiki ditemukan faktor-faktor lemahnya penguasaan bahasa asing, kurang berdiskusi, terlalu banyak jenis mata kuliah lalu disimpulkan bahwa penyebab rendahnya prestasi itu adalah lemahnya penguasaan bahasa asing, ini tidak merupakan konsekuensi logis dari fenomena yang dikumpulkan. Kesimpulan ini lemah karena meninggal dua faktor tadi. Semakin banyak yang ditinggalkan, semakin lemah kesimpulan yang dihasilkan.

GENERALISASI YANG SALAH

Kita telah mengetahui bahwa tingkat keterpercayaan suatu generalisasi tergantung bagaimana tingkat terpenuhnya jawaban atas evaluasi sebagaimana tersebut di atas. Semakin terpenuhnya syarat-syarat tersebut semakin tinggi tingkat keterpercayaan generalisasi dan begitu pula sebaliknya.

Bagaimana juga ada kecenderungan umum untuk membuat generalisasi berdasarkan fenomena yang sangat sedikit sehingga tidak mencukupi syarat untuk dibuat generalisasi. Hal ini juga bisa disebut sebagai generalisasi tergesa-gesa.[6] Dalam kehidupan sehari-hari kekeliruan seperti ini sering sekali terjadi. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut; Ketika kita ingin mengurusi permasalahan beasiswa di bagian TU Akademik Tarbiyah IAIN dan dilayani dengan tidak profesional (mbulet), maka kita terhanyut pada generalisasi yang salah kemudian kita menyatakan bahwa pelayanan TU Akademik Tarbiyah IAIN tidak bagus (patut dipecat).

GENERALISASI EMPIRIK DAN GENERALISASI DENGAN PENJELASAN

Sebagaimana telah disebutkan bahwa generalisasi (sudah barang tentu generalisasi tidak sempurna) tidak pernah mencapai tingkat keterpercayaan mutlak namun kesimpulan yang dihasilkan menjadi terpercaya manakala terpenuhi empat syarat yang telah disebutkan di atas. Apabila generalisasi ini disertai dengan penjelasan ‘mengapa’ maka kebenaran yang dihasilkan akan lebih kuat lagi.

Generalisasi yang tidak disertai dengan penjalasan mengapa-nya atau generalisasi berdasarkan fenomenanya semata-mata disebut generalisasi empirik. Atau dengan melihat pendapat Metron yang membatasi generalisai empiris sebagai "suatu proposisi tersendiri yang meringkas keseragaman hubungan yang diminati di antara dua tau lebih variable" yang memisahkan istilah "hukum ilmiah" dengan "suatu pernyataan invariant yang dapat ditarik dari suatu teori." Perbedaan diantara berbagai generailisasi emperis ini, dimana teori penjelas yang tepat ternyata belum ada dan di mana teori demikian telah ada.[7]

Taruhlah kita mempercayai generalisasi Darwin “semua kucing berbulu putih dan bermata biru adalah tuli”. Pernyataan ini didasarkan atas generalisasi yang benar dan terpercaya, sehingga kita semua mengakui kebenaran pernyataan ini. Tetapi sejauh itu, pernyataan serupa ini hanya mendasarkan kepada fenomenanya, maka hal ini adalah generalisasi empirik. Apabila kemudian kita dapat menjelaskan mengapa kucing yang mempunnyai ciri-ciri serupa itu adalah tuli, yakni menghubungkan bahwa ketiadaan pigmen pada bulu kucing dan warna matanya mengakibatkan organ pendengarannya tidak berfungsi dan generalisasi ini disebut generalisasi dengan penjelasan (explained generalization). Generalisasi ini mempunyai taraf keterpercayaan hampir setingkat dengan generalisasi sempurna.[8]

Kebayakan generalisasi pada kehidupan kita adalah generalisasi empirik, yang berjalan bertahun-tahun bahkan berabad-abad sampai akhirnya dapat diterangkan. Telah diketahui berdasarkan generalisasi bahwa tanah yang ditanam secara bergantian dengan jenis lain secara teratur akan menghasilkan panen yang lebih baik dibanding jika ditanami dengan tanaman yang selalu sejenis. Ini diketahui sudah sejak berabad-abad, tetapi sedemikian jauh masih merupakan generalisasi empirik. 

Setelah bertahun-tahun manusia mendasarkan tindakannya atas pengetahuan yang semata-mata empirik kemudian menemukan rahasianya bahwa pergantian jenis tanaman akan menghasilkan kesuburan bagi tanah inilah yang menyebabkan panenan berikutnya baik. Pengetahuan kita sekarang ini, bahwa memanfaatkan tanah dengan menanaminya secara berganatian akan menghasilkan panen yang bagus, menjadi pengetahuan generalisasi dengan penjelasan, karena kita telah mengetahui hubungan kausalnya.

Jadi benarlah bahwa semua hukum alam mula-mula dirumuskan melalui generalisasi empirik kemudian setelah diketahui hubungan kausalnya, maka lahirlah generalisasi dengan penjelasn dan inilah yang melahirkan penjelasan ilmiah




F. GENERALISASI ILMIAH

Generalisasi ilmih tidak berbeda dengan generalisasi biasa, baik dalam bentuk maupun permaslahannya. Perbedaan yang paling mendasar adalah terletak pada metodenya, kualitas data serta ketepatan dalam perumusannya.

Generalisasi dikatakan sebagai penyimpulan karena apa yang ditemui dalam observasi sebagai sesuatu yang benar, maka akan benar pula sesuatu yang tidak diobsevasi.

Tanda-tanda penting dari generalisasi ilmiah dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi yang cermat. Dilakukan oleh tenaga terdidik serta mengenal baik permasalahannya. Pencatatan hasil observasi dilakukan dengan tepat, mnyeluruh, dan teliti.

2. Adanya penggunaan instrumen untuk mengukur serta mendapatkan ketepatan serta menghindari kekeliruan sejauh mungkin.

3. Adanya pengujian, perbandingan serta klasifikasi fakta.

4. Pernyataan generalisasi jelas, sederhana, menyeluruh dinyatakan dengan istilah yang padat dan tematik.

5. Observasi atas fakta-fakta eksperimental hasilnya dirumuskan dengan memperhatikan kondisi yang bervariasi, misalnya waktu, tempat, dan keadaan khusus lainnya.

6. Dipublikasikan untuk memungkinkan adanya pengujian kembali, kritik, dan pengetesan atas generalisasi yang dibuat.

Ciri tersebut di atas tidak saja berlaku bagi generalisasi ilmiah, tetapi juga bagi interpretasi ilmiah atas fakta-fakta. Biasanya kita tidak dapat melakukan pengetasan atas generalisasi ilmiah tersebut. Kita hanya bisa mengikuti bagaimana penilaian para ahli yang mempunyai otoritas pada bidang permasalahaanya.



G. SYARAT-SYARAT GENERALISASI 

Sudah diketahui bahwa penalaran yang menyimpulkan suatu konklusi yang bersifat umum dari premis-premis yang berupa proposisi empirik itu disebut generalisasi. Prinsip yang menjadi penalaran generalisasi itu dapat dirumuskan demikian: 

Apa yang terjadi berkali-kali terjadi dalam kondisi tertentu, dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi.

Dua kali kita jumpai apel masam dalam kondisi keras dan hijau. Maka ketika melihat apel ketiga memenuhi kondisi keras dan hijau, kita menyimpulkan, bahwa dapat diharapkan apel itu pun masam rasanya.[9] Kesimpulan itu hanya suatu harapan, suatu kepercayaan, karena seperti dikatakan di atas, konklusi penalaran induktif tidak mengandung kebenaran yang pasti, akan tetapi hanya berupa suatu probabilitas, suatu peluang.

Hasil penalaran generalisasi induktif itu sendiri juga disebut generalisasi. Generalisasi dalam arti ini berupa proposisi universal, seperti: “Semua apel yang keras dan hijau, rasanya masam”; “Semua logam yang dipanaskan memuai”.

Generalisasi yang sebenarnya harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut:

1. Generalisasi harus tidak terbatas pada numerik. Artinya, generalisasi tidak boleh terikat dengan kepada jumlah tertentu. Kalau dikatakan bahwa ” semua A adalah B ”, maka proposisi itu harus benar, berapa pun jumlah A. Proposisi itu berlaku untuk setiap dan semua subyek yang memenuhi kondisi A.

2. Generalisasi harus tidak terbatas secara spasio-temporal, artinya, tidak boleh terbatas pada ruang dan waktu. Jadi harus berlaku di mana saja dan kapan saja.

3. Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian. Yang dimaksud dengan ’dasar pengandaian’ di sini ialah: dasar dari yang disebut ”contrary-to-facts conditionals” atau ”unfulfilled conditionals”.[10] 


H. ANALISIS KRITIS

Generalisasi merupakan suatu pengertian yang bersifat umum. Pengertian ini diperoleh dari hasil penyimpulan fenomena- fenomena individual. Fenomena individual yang diambil, diteliti tidak keseluruhannya tetapi hanya sebagian besar saja. Namun demikian walau generalisasi ini diperoleh dari fenomena sebagian besar tetapi kebenarannya sudah dapat mengikat dan berlaku terhadap fenomena lain yang tidak diteliti tetapi masih dalam jenis yang sama.

Karena objek yang diteliti sebagai kesimpulan generalisasi ini tidak secara keseluruhan maka kebenaran dari generalisasi ini masih bersifat kebenaran kemungkinn besar (probabilitas), sehingga kebenarannya masih dapat di sanggah dengan nalar yang logis dan fakta- fakta tertentu yang relevan.

Proses generalisasi, pada saat ini menjadi suatu proses yang paling banyak digunakan oleh para ilmuwan, selain efektif juga bersifat ekonomis. Bahkan buku-buku ilmiah yang kita baca setiap hari itu pernyataan dan keterangannya juga merupakan kebenaran probabilitas yang tidak mutlak benar karena kebenaran dari berbagai kesimpulan itu diperoleh dari proses generalisasi.

Oleh karena itu diharapakan kepada para elite masyarakat, dalam hal ini mahasiswa yang peduli akan perkembangan bangsa dan masyarakat agar tidak terpaku dan mengkultuskan kebenaran tekstual suatu khazanah bacaan (buku-buku), karena bacaan yang mutlak benar itu hanya al- Quran. Buku-buku itu sebaiknya hanya kita jadikan khazanah untuk memperkaya paradigma berpikir dan penguat pendapat dan jalan pikir kita bukan sebagai pembenaran mutlak. Bahkan keterangan dari seorang dosenpun jangan langsung kita telan mentah-mentah, kita juga harus berani mengkritisinya.

Bahkan akhir-akhir ini banyak sekali dari ilmuwan-ilmuwan kita yang sudah mulai mengkritisi khazanah klasik yang berupa kitab- kitab karangan para ulama salafus sholih seperti yang kita kenal dengan sebutan rekonstruksi pemikiran ulama terdahulu.

Dalam kaitannya dengan generalisasi ada yang disebut dengan generalisasi yang salah. Generalisasi yang salah ini maksudnya adalah penyimpulan dari fenomena yang minim sekali yang dialami seketika itu oleh seseorang, sehingga generalisasi yang dibuat itu salah karena fenomena yang dialami itu belum dapat mewakili keseluruhan fenomena lain yang sejenis.

Seperti contoh, suatu ketika menteri agama itu terjerat kasus korupsi, dengan adanya satu fenomena itu langsung digeneralisasikan bahwa orang islam itu suka korupsi. Maka generalisasi semacam ini salah karena hanya ditarik dari satu fenomena yang tak mewakili keadaan orang islam secara keseluruhan.

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN 

generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki.

Dilihat dari kuantitas fenomena yang diselidiki maka generalisasi digolongkan menjadi dua macam, yaitu: Generalisasi Sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki semua. Generalisasi Sebagian, yaitu generalisasi dimana kesimpulannya diambil berdasarkan sebagian fenomena yang kesimpulanya berlaku juga bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki

Dalam generalisasi kita mengenal adanya Generalisasi Yang Salah yaitu generalisasi yang dibuat berdasarkan fenomena yang sangat sedikit sehingga tidak mencukupi syarat untuk dibuat generalisasi, karena fenomena yang dijadikan acuan itu tidak mewakili fenomena yang lain yang tidak diangkat.

Generalisasi Empirik adalah generalisasi yang tidak disertai dengan penjelasan “mengapa”-nya atau generalisasi berdasarkan fenomenanya semata-mata. Sedangkan Generalisasi Dengan Penjelasan adalah generalisasi yang tidak hanya empirik melainkan juga telah disertai dengan penjelasan “mengapa”-nya atau generalisasi yang tidak hanya berdasarkan fenomena-fenomena semata melainkan telah terdapat penjelasan.

Generalisasi ilmiah tidak berbeda dengan generalisasi biasa, baik dalam bentuk maupun permaslahannya. Perbedaan yang paling mendasar adalah terletak pada metodenya, kualitas data serta ketepatan dalam perumusannya.



Syarat-syarat

1. Generalisasi harus tidak terbatas pada numerik.

2. Generalisasi harus tidak terbatas secara spasio-temporal.

3. Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.

SARAN

Setelah diketahui bahwa kebenaran isi buku ilmiah yang dibuat para ilmuwan dan pemikir kita itu masih berupa kebenaran probabilitas maka diharapkan kepada seluruh teman-teman mahasiswa untuk tidak menelan mentah- mentah isi dari satu buku saja. Dalam memperkaya khazanah pemikiran setidaknya kita mempunyai pembanding dari sumber bacaan yang lain yang pada akhirnya kita juga mempunyai pandangan tersendiri tentang isi buku itu.

DAFTAR PUSTAKA


K, Baihaqi, 2007. Ilmu Mantiq. Jakarta: Radar Jaya Offset.

Al-Ibrahimi, Muhammad Nur, 1960. Ulumul Mantiq. Surabaya: Maktab Sa'ad bin Nasir Nabhan.

Mundiri, 1994. Logika, Jakarta: PT Rajab Grafindo Persada.

Poespoprodjo, W., 1999. Logika Scientifikasi, Bandung: Pustaka Grafika

Soekadijo, R. G, 1991. Logika Dasar, Jakarta: PT Gramedia 

Surajiyo, dkk, 2006. Dasar-Dasar Logika, Jakarta: Bumi Angkasa.

Wallace, Walter L, 1994. Metode Logika Ilmu Sosial, Jakarta: Bumi Aksara.

[1]Muhammad Nur Al-Ibrahimi, Ulumul Mantiq, (Surabaya: Maktab Sa'ad bin Nasir Nabhan, 1960), hal. 51-52.

[2] Mundiri, Logika, (Jakarta: Raja Brafindo Persada, 1994), hal. 154.

[3] Ibid., hal. 156.

[4] Baihaqi A.K, Ilmu Mantiq. (Jakarta: Radar Jaya Offset, 2007) hal. 113


[5] Pengujian atas generalisasi bisa dilihat umpanya pada Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi Komposisi Lanjutan III (Jakarta; Gramedia 1982), hal. 46-47.

[6] W. Poespoprodjo, Logika Scientifikas, (Bandung: Pustaka Grafika, 1999), hal. 242.

[7] Walter L. Wallace, Metode Logika Ilmu Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hal. 36

[8] Mundiri, Op.Cit., hal 153

[9] Surajiyo, dkk, Dasar-Dasar Logika, (Jakarta: Bumi Angkasa, 2006), hal. 61


[10] R. G Ssoekadijo, Logika Dasar, (Jakarta: PT Gramedia, 1991) hlm. 135.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar